← back to index

The Kamal Way: Restart Karier Dalam 6 Bulan

“The Kamal Way” lebih mengedepankan personal development daripada menjadi filthy rich (adaptasi “The Lasso Way” dari serial Ted Lasso).

Dari awal gabung corporate, hobi gue adalah mengobservasi lingkungan sekitar.

Gue amati orang-orang yang gue nggak bisa relate, dan juga orang-orang yang gue amat sangat relate.

Di satu sisi, gue menemukan orang-orang dengan karakteristik:

Biasanya mereka ini hidup dari gaji ke gaji.

Suka teriak: “ Yah, gajian masih 4 minggu lagi.”

Di sisi sebaliknya, orang-orangnya justru:

Rata-rata orang yang tergabung di klaster ini adalah mereka dengan track record cukup panjang.

Mungkin lo mau bilang:

“Tapi bisa jadi mereka juga nggak bahagia?”

Atau:

“Pasti gaji mereka gede makanya punya ownership tinggi. Nggak cuma mereka yang loyal ke perusahaan, perusahaan juga loyal sama mereka.”

Mungkin lo benar, tapi apa lantas kita setuju bahwa 100% orang yang ada di klaster 2 sama sekali nggak bahagia? Atau ownership -nya nggak tulus?

Menurut gue, daripada senantiasa menutup potensi lo untuk bertumbuh with such self-limiting belief, coba timbulkan rasa penasaran. Curiosity.

Gue jadi teringat scene yang keren banget dari serial Ted Lasso di mana Ted (protagonis utama) dan Rupert (tokoh antagonis) taruhan game dart. Dalam putaran terakhir, Ted melemparkan anak panah sambil ngasih wejangan- gue terjemahkan:

“Orang-orang selalu menyepelekan saya sepanjang hidup dan saya tidak tahu kenapa. Lalu pada suatu waktu ketika sedang mengantar anak saya ke sekolah, saya melihat pepatah dari Walt Whitman, dilukis di sebuah dinding yang bertuliskan, ‘Be curios, not judgmental*.’ Saya tersenyum.” — Ted Lasso*

Kebanyakan orang, mungkin termasuk juga lo sendiri, suka men- judge semua yang dilihatnya.

“They thought they had everything all figured out, so they judged everything, and they judged everyone. If they were curious, they would’ve asked questions.”

Mereka pikir udah tau semuanya, makanya mereka nge-judge semua hal, dan semua orang. Padahal, jika penasaran mereka justru akan bertanya.

“Bagaimana jika orang itu sebenarnya bahagia, tapi orang lain aja yang sok tahu?”

“Atau, mungkin mereka memang nggak bahagia, kok bisa? Lantas m mereka harus pura-pura bahagia?”

“Apa benar perusahaan cukup loyal dalam menggaji mereka sehingga mereka punya ownership tinggi? Bagaimana jika bukan itu alasannya?”

Pertanyaan demi pertanyaan akan muncul jika lo menumbuhkan rasa ingin tahu.

Itulah yang gue lakukan selama ini. Gue mengamati orang-orang, lalu menimbulkan segudang soal di kepala gue, menunggu untuk dijawab.

Karena itu, gue bisa berkali-kali lolos dari klaster 1. Padahal, setiap jadwalnya payroll, justru screen time LinkedIn gue mengalami peningkatan.

Yang terbaru, akhir Januari kemarin gue mengalami perasaan itu lagi. Perasaan stuck akan karier gue.

Namun gue selalu mampu membalikkan keadaan, gue ga membiarkan diri gue berlama-lama dirundung perasaan negatif akibat kondisi saat ini.

Bahkan kalau diingat-ingat, fase terbaik dari hidup gue selalu datang setelah kegagalan.

Salah satu alasannya adalah gue mempunyai The KAMAL Way sebagai approach dalam menghadapi hampir semua masalah.

K -Know yourself
A -Acquire skills
M -Make it your passion
A -Adjust perspective
L -Lifelong project

Semua didasari oleh rasa ingin bertumbuh. Butuh waktu yang cukup dan interaksi yang intens agar gue bisa jelasin semuanya, namun pada intinya kelima hal tersebut saling interconnected satu sama lain.

Lo butuh latihan serius agar bisa menerapkannya di diri lo dalam waktu yang singkat.

Karena untuk menjalankan masing-masing dari lima poin tersebut, biasanya memakan waktu cukup lama, apalagi jika lo baru mencoba melakukannya.

Bersiaplah, ini akan jadi bacaan yang sangat panjang. Kalau lo belum siap untuk naik kelas, sebaiknya lo bookmark dulu.

K: Know Yourself

Masalah (atau kesempatan) utama yang muncul di era ini adalah berseliwerannya informasi secara bebas.

Semua orang jadi lebih sering mengonsumsi konten, artikel, newsletter, dan podcast secara bebas dan dari media buatan orang lain.

Akibatnya konsumen jadi lebih mudah terpapar teori-teori (dari orang lain), tanpa memiliki pengalaman yang utuh dan lengkap.

Tanpa disadari, tubuh kita lebih senang seperti itu.

To consume, is easier than to create.

Ketika manusia berpindah dari konsumsi menjadi kreasi, tubuh akan memberikan sinyal-sinyal ketidaknyamanan. Hingga timbul keraguan pada diri sendiri.

Ironis bukan? Justru ketika berada di era informasi, manusia kesulitan untuk memiliki informasi utuh tentang dirinya sendiri.

Gue percaya bahwa kita ada karena suatu alasan, karena itu gue mau ngebantu lo menemukan panggilan itu.

Salah satu tool yang gue pakai untuk menemukan panggilan tersebut adalah diagram ikigai.

Ikigai adalah …

Ada yang bilang, rahasia umur panjang, hidup bahagia, dan berkecukupan.

Ada yang bilang, ikiga adalah alasan lo bangun setiap pagi.

Namun jika kita lihat dari grafik di atas, ikigai merupakan s weet spot dari:

Apa sih yang buat lo semangat banget ketika bangun pagi? Atau, suatu hal yang benar-benar lo jago banget? Apa yang dunia betul-betul butuhkan saat ini? Lalu, gimana caranya bikin itu semua jadi uang beneran?

Ketika lo berhasil menemukan interseksi atas empat pertanyaan tersebut, semakin tinggi pula kemungkinan lo dalam menemukan ikigai, your reason for being.

Gue sendiri sudah menghabiskan ratusan jam untuk melakukan exercise dalam menemukan jati diri gue. Seperti yang gue bilang, ikigai merupakan salah satu tools, bukan satu-satunya.

Lo bisa explore sendiri, atau gunain e-book Know Yourself yang akan gue rilis Minggu ke-4 bulan April.

A: Acquire Skills

Every problem is a skill problem.

Semua masalah ditenggarai oleh kurangnya skill, dan setiap jawaban yang berlawanan dengan statement tersebut bisa dilihat sebagai kurangnya skill.

Jarak antara posisi lo yang sekarang dengan tujuan akhir, adalah skill.

Penyebab lo belum sampai di titik yang lo pengin, adalah lo belum jadi orang yang pantas berada di titik itu. Apa yang menjembatani ruang kosong tersebut? Adalah skill.

Skill adalah penentu tingkat kesulitan hidup yang akan lo alami.

Dalam konteks karier, skill menjadi salah satu indikator utama yang lo harus beri perhatian penuh.

Boleh jadi, masalah yang menyelimuti lo sekarang adalah kurangnya skill.

Skill yang lo miliki, harus selaras dengan tingkat tantangan yang lo dapati.

Jika tingkat tantangan terlalu rendah dibanding skill yang lo punya, lo akan cepat bosan.

Jika tingkat tantangan terlalu tinggi dibanding skill yang lo punya, lo akan mudah khawatir.

Disinilah peran dari Know Yourself. Salah satu rutinitas yang wajib dilakukan dalam upaya mengenali diri sendiri adalah self-reflect.

Ketika perjalananmu mulai ‘mengerikan’, mungkin sudah saatnya lo mengakuisisi skill baru.

Seperti waktu lo pertama kali mengemudi mobil ke jalan umum. Masih ingat adrenalin yang memacu? Pengalaman mengerikan, kan?

Saat itu lo jujur dengan diri sendiri. Lo tahu bahwa lo belum jago, belum punya skill yang cukup. Lo ngelakuin self-reflection secara nggak sadar.

Atau seperti di video gim, di mana setiap level yang lo hadapi merupakan konsekuensi dari keberhasilan lo di tahap sebelumnya.

Dan untuk naik ke level selanjutnya, lo harus mengumpulkan skill, talent, atau equipment yang dibutuhkan.

Jika lo ga ngelakuin itu, tapi lo maksa naik ke leveldi atas kemampuan lo saat ini, lo akan habis dan ga bisa berbuat apapun.

Sebaliknya jika lo sudah persiapan, maka permainannya akan asyik karena keseimbangan yang terjaga. Make sense, kan?

Mulailah menambah pengetahuan baru, melatih skill baru, dan menikmati dopamin yang melimpah ruah sebagai konsekuensi langkah positif yang lo pilih dalam membawa diri lo maju ke tingkat selanjutya.

Sampai di sini, seharusnya lo udah punya cukup modal untuk restart karier:

  1. Kenal diri. Gunakan kompas yang hanya lo yang punya.
  2. Tambah skill. Ekspos diri lo dengan peluang peningkatan diri.

Akan tetapi, jika peningkatan skill lo gagal menghasilkan dopamin yang meledak-ledak, sudah saatnya lo masuk ke stage berikutnya.

M: Make it Your Passion

“The only way to do great work is to love what you do. If you haven’t found it yet, keep looking and don’t settle.” — Steve Jobs

Kalimat ini 100% benar namun 100% rawan disalahartikan.

Steve Jobs, sebelum menjadi ‘Steve Jobs’, pernah tenggelam dalam filosofi Buddhisme Zen- mindfulness meditation. Namun kita semua tahu pada akhirnya Jobs tidak berkarier sebagai biksu.

Jobs justru membawa filosofi Zen ke pekerjaan lain, dan berhasil mengakuisisi skill yang akhirnya menambah kelengkapan artilerinya untuk menjadi seorang inovator gadget terbaik yang dunia pernah lihat.

Poinnya adalah, jika Jobs memang sangat passionate dengan spiritualitas — khususnya Zen, mengapa Jobs tidak memilih jalur ‘karier’ tersebut?

Yang terjadi, Jobs mengarahkan fokusnya ke Product Development, menjadi sangat hebat di bidangnya, dan sepertinya menemukan passion di bidang tersebut.

Jobs menemukan passion -nya menjadi inovator dengan cara menjadi inovator terbaik di dunia, bukan karena passion -nya berkata demikian.

Ini yang gue maksud dengan:

“Penyebab lo belum sampai di titik yang lo pengin, adalah lo belum jadi orang yang pantas berada di titik itu. Apa yang menjembatani ruang kosong tersebut? Adalah skill*.”*

Karena itu stage ini gue namai Make it Your Passion. Memang pada dasarnya passion itu bukan bawaan lahiriah manusia.

Nggak ada orang yang tiba-tiba langsung terobsesi.

Yang ada, tumbuhkan dulu rasa penasaran, lalu mulai pelan-pelan.

Eksperimen, bangun, selami, hancur, gagal, iterasi, sampai bisa, sampai jadi ahli, sampai akhirnya ketagihan.

Curiosity, akan jadi obsesi, akan jadi passion, bila ditempah oleh waktu dan kegigihan.

Don’t follow your passion. Make one.

Gue pernah mengira gue lahir untuk menjadi streamer video gim terkenal. Lalu gue pikir untuk pivot ke musik, jadi gitaris kondang. Kemudian gue beralih ke analisis keuangan dan sempat mengira inilah alasan gue lahir ke dunia. Namun hingga saat ini nggak ada satupun yang benar-benar merupakan “panggilan” gue.

Kesamaan dari semua hal yang gue sebutkan adalah, kurangnya elemen pengalaman. Gue nggak melakukan masing-masing dari mereka dalam waktu yang cukup lama.

Kuncinya adalah:

Jika lo melakukan sesuatu untuk waktu yang cukup lama, lo akan menjadi ahli dalam bidang tersebut, dan secara otomatis menumbuhkan passion di bidang tersebut.

A: Adjust Perspective

Gue perhatikan, saat bicara career progression orang-orang cenderung membayangkan anak tangga.

Lo harus menyelesaikan satu, lalu ‘naik’ ke atasnya.

Keseimbangan lo akan terjaga bila menaiki anak tangga secara perlahan. Mata melihat ke depan, dan kepala mendongak ke atas.

Selalu ada kesan seolah progres karier itu hanya vertikal. Jika tidak naik, ya turun.

Gue nggak setuju. Menurut gue, kita bebas memilih progresi karier dan disiplin ilmu yang kita mau ambil. Mau naik-turun atau kiri-kanan ( sideway).

Memutuskan untuk menguasai hanya satu bidang adalah cara tercepat untuk digantikan oleh AI.

Setidaknya 4 skill/knowledge ini merupakan prasyarat untuk role gue sekarang. Kemewahan yang belum tentu dimiliki seorang spesialis.

Dengan menjadi polymath, kontrol karier gue berada di tangan gue sendiri.

Apakah gue bisa pivot ke role yang lain? Tentu.

Dengan memilih progresi sideway, gue jadi lebih siap akan perubahan.

Jika tiba-tiba ada perombakan signifikan, seorang polymath cukup melakukan penyesuaian kecil di hidupnya.

Berbeda dengan sang spesialis.

Apakah specialist bisa pivot ke role lain? Doubtful. Lo harus mastiin skill matrix lo sudah mumpuni. Seberapa besar learning curve yang dibutuhkan sangat tergantung pada besar perubahan yang terjadi.

Karena itu, setiap kali merasa karier stuck, gue akan perluas perspektif dan lihat apa skill yang bisa ditambah untuk melengkapi artileri gue.

Coba berhenti sejenak dan lihat ke dalam, lo seorang spesialis atau polymath?

L: Lifelong Project

Karier, sama seperti hidup, adalah feedback loop tiada henti yang dimulai oleh diri kita sendiri.

Maka buatlah karier yang bisa sangat lo nikmati sehingga lo nggak perlu istirahat darinya.

Karier adalah hidup. Keduanya tidak dapat dipisahkan.

Sebelum generasi ‘work-life balance’ ke-trigger, gue akan elaborasi terlebih dahulu.

“Karier”, atau “kerja”, tidak bisa dipisahkan dari “hidup”, atau “istirahat”.

Setelah lo selesai “kerja”, maka lo hampir pasti akan pulang untuk “istirahat”. Inilah gagasan umum yang ada pada masyarakat.

Kerja adalah suatu kondisi di mana lo wajib untuk hadir -biasanya selama 8 jam, ke tempat yang lo ga suka, melakukan hal yang lo ga suka (bahkan benci).

Sementara istirahat adalah kondisi di mana lo mengisolasi diri dari pekerjaan. Sebuah aksi untuk mendistrak pikiran, dan melupakan semua yang berkaitan dengan pekerjaan.

Itukah work-life balance? Agak menyedihkan bagi gue.

Singkatnya hidup untuk mengerjakan sesuatu yang lo benci, lalu habiskan sisa waktu untuk sembunyi dari hal yang lo benci, pergi tidur, lalu diulang kembali sampai akhirnya lo pensiun. Barulah lo berhenti, untuk istirahat.

Dan itu, adalah mindset yang salah.

Istirahat dan kerja adalah dua komponen yang saling melengkapi. Hidup dan karier, adalah aktivitas yang menghembuskan nyawa ke dalam kehidupan itu sendiri.

Dalam skala yang sedikit berbeda, transisi antar karier lama dan karier baru juga merupakan aktivitas yang melengkapi kehidupan.

Jangan menganggapnya sebagai bagian terpisah. Perlakukan layaknya chapter pada sebuah buku yang saling sambung.

Sebuah buku berjudul “ My Life: Holistic study of what I’ve been through and the reasoning behind it ”.

Gue selalu memandang setiap pekerjaan dengan perspektif demikian.

Biarpun di awal tadi gue mengatakan bahwa screen time LinkedIn gue meningkat setiap masa payroll, bagi gue, itu merupakan konflik tersendiri yang gue hadapi di chapter yang sekarang.

Terlepas dari tidak worth it secara payroll, role gue saat ini yang memberikan learning curve paling tajam. (Gue akan bahas di artikel selanjutnya).

Dalam waktu dekat, mungkin gue bisa leverage semua pengalaman yang gue dapat untuk pivot ke role berikutnya.

Intinya, ketika lo ragu dengan kondisi sekarang, coba zoom out. Konflik yang terjadi di satu chapter pasti akan menemukan resolusi di chapter yang lain.

Menurut gue*, framework* The Kamal Way sudah cukup untuk lo pakai sebagai landasan holistik ketika menghadapi kebuntuan, keraguan, bahkan rasa bosan.

Thank you buat lo yang sudah baca sampai habis.