
“Jenjang Karier” Gue dalam 5 tahun dan 7 role
Dari dulu, gue selalu ngira gue spesial. Cerdas, cepat nangkap, pintar ngomong, highly noticeable bangetlah bagi orang-orang di sekitar. Sifat-sifat itu dipaketin lagi dengan rasa percaya diri yang teramat sangat tinggi. Bayangin gimana jadinya?
Sebuah lingkaran setan di mana:
- Gue sangat pede dengan kemampuan, kecerdasan, dan pembawaan diri gue sendiri.
- Rasa percaya diri itu ngebuat gue jadi lebih nonjol, dan jadi keliatan seolah lebih cerdas aja.
Dua hal ini terus berputar dan numpuk sampe gue ngerasa jadi orang paling penting di kampus.
Gapernah ada situasi di mana mother nature nyadarin gue kalau gue itu belum ada apa-apanya.
2015-2019, that was my golden period. For a brief, I thought I have the whole world in my hand. That was wild! (kisah ini worth untuk kita bahas lain waktu).
Tapi segala hal baik pasti akan berakhir juga, cepat atau lambat.
Begitu pula dengan ‘masa-masa emas’ gue.
Ga butuh waktu lama, 2020 was a living hell for me, yang panasnya udah kerasa sejak akhir 2019.
Hanya dalam waktu sebulan gue ngerasain:
- ‘Gagal’ wisuda sesuai rencana.
- Subsidi bulanan dari orang tua dipangkas jadi Rp0,- literally zero.
- Gue jadi gabisa ngurus diri. Makan ga teratur. Kadang ada, kadang engga.
- Berat badan turun, overal hygiene juga jatuh drastis.
- Ngurus diri aja gabisa, apalagi buat menjalin hubungan sama orang lain. Alhasil, gue break up dengan pacar gue saat itu.
- Jarang bahagia. Setelah semua yang terjadi, masih berharap gue bisa bahagia?
Sebetulnya masih ada lagi, tapi dari 6 poin ini aja pattern- nya udah bisa kebaca.
- Gue kalah di wealth, health, dan relationship.
- Lalu pada akhirnya gue kehilangan happiness.
- Semua karena gue kehilangan self – esteem akibat ‘gagal’ meraih gelar sarjana— social status. (lihat: Hierarchy of Needs oleh Abraham Maslow).
Tapi, setelah gue refleksikan sekarang, periode ini jugalah yang jadi turning point dalam hidup gue.
Kebutuhan gue akan physiological needs alias makan jelas lebih mendasar daripada kebutuhan gue akan self-esteem.
Insting bertahan hidup gue pun mengambil alih. Gue put aside skripsi yang masih minta direvisi, dan jadi lebih fokus nyari kerja sambilan buat bertahan hidup.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Gue dapat ajakan gabung ke Event Organizer acara skala nasional. Makan gue jadi aman, dan yang paling penting, gue bisa nyambi kelarin skripsi pakai alat inventaris kantor.
2 birds, 1 stone.
Tentu seperti yang gue katakan sebelumnya: Segala hal baik pasti akan berakhir juga, cepat atau lambat.
“Sebuah Event Organizer mengadakan event skala nasional di tahun 2020.”
Covid came, We’re f*cked. Kami rugi miliaran.
Lesson #0: Hidup Adalah Entropi
Seperti yang gue bilang sebelumnya, 2020 adalah turning point bagi gue. Segala kesulitan yang gue alami ternyata ngebuka mindset yang baru dalam hidup gue.
Inilah masa-masa di mana gue belajar human nature, psychology, metaphysics, emotional management, dan stoicism. Bahkan novel Supernova karya Dee Lestari jadi jauh lebih ngena karena gue baca di masa yang berdekatan.
Hidup adalah entropi. Perlahan tapi pasti, kita bergerak menuju ketidakteraturan (disorder/chaos).
Agar dapat bertahan di dalam keteraturan (order), kita harus luangkan energi yang cukup.
Hal ini gue sebut sebagai put order. Meletakkan (put) keteraturan (order) pada tempatnya.
Bayangkan otak lo sebagai sebuah ruangan, dan lo ga ngasih energi (put order) untuk ngebersihin ruangan tersebut, lama-kelamaan ya bakal jadi kotor. Semakin lo diemin, semakin kotor ruangannya.
Padahal lo sadar, bahwa lebih gampang bersihin ruangan yang baru ditinggal sehari dibanding yang udah berbulan-bulan.
Konsep ini bisa dipakai di semua aspek kehidupan. Misalnya:
- Fitness /diet: lebih mudah kontrol kalori harian daripada ikut program turun berat badan di mana lo harus konsisten nge- gym dan cutting kalori. Bahkan setelah badan cukup lean, kalau lo ga kontrol kalori harian dan ga rutin olahraga (put order), siap-siap lemak numpuk lagi.
- File organizing: berapa banyak foto/video yang lo hasilkan dengan smartphone per hari? Berapa banyak jumlah foto/video di smartphone lo sekarang? 1000? 10,000?
Soon, memory smartphone lo akan penuh, baru lo mulai mikirin program pengosongan memory. Karena lo ga pernah put order setiap hari.
“Bahkan, dalam keadaan yang tampaknya ekuilibrium atau seimbang, sesungguhnya chaos dan order hadir bersamaan, seperti kue lapis, yang di antaranya terdapat olesan selai sebagai perekat.” – Dee Lestari
Artinya apa? Dengan memahami entropi, artinya lo paham bahwa doing nothing hanya akan mengarahkan lo secara perlahan pada ketidakteraturan. Kepada chaos.
Artinya gue, lo, kita semua ga boleh berpuas diri dengan keadaan saat ini. Kita gabisa jalan di tempat dan berharap dunia juga stay the same.
Long story short, karena gue percaya hidup adalah entropi, gue jadi ketagihan belajar, ketagihan improve diri, dan jadi punya rasa penasaran yang tinggi.
Karena itu gue ga pernah lagi merasa puas. Termasuk di company tempat gue bekerja sekarang.
Minggu lalu, gue memasuki usia 27 tahun. That’s the perfect age to start freaking out about how soon you’ll be 30!
7 Bullsh*t Jobs: “Jenjang Karier” Gue Dalam 5 Tahun
Sebelum gabung ke EO di awal 2020, gue sempat ikut proyek survey di tahun 2019. Motivasinya bukan uang, tapi karena mau ngebantu kerabat buat kelarin proyek surveinya aja.
Gue merangkap sebagai enumerator sekaligus research analyst pada proyek survei PES (Passenger Exit Survey) dan Outbound wilayah Sumatera Utara. Hingga saat ini, laporannya masih ada di website BPS (Badan Pusat Statistik).
Jika 2019 adalah titik awal trajektori karier gue, maka total udah 5 tahun gue berkarier, dan udah ada tujuh posisi yang pernah gue sematkan sebagai identitas.

“Jenjang Karier” Gue dalam 5 tahun dan 7 role
Coba lo perhatikan, hampir ga ada pilihan karier yang berkaitan langsung antara satu dan lainnya. Kadang gue sampai mikir, kok “jenjang karier” gue lebih kelihatan seperti eksperimen, ya?
Perjalanan karier gue terlalu acak, dan bagi gue (dulu) ini adalah kelemahan yang harus dibinasakan.
Kuartal 3 tahun 2021, saat itu gue di- hire oleh corporate gede untuk melengkapi formasi di departemen transport.
Role gue adalah Transport Dispatch & Controller. Trucking abis… Padahal gue sama sekali ga punya basic transportasi dan trucking.
Dalam usaha yang ambisius untuk segera memanjat tangga corporate, gue mencari mentor-mentor yang mau bantu gue beradaptasi.
Setelah gue pelajari orang-orang yang gue kagumi, gue menyimpulkan 3 hal yang membantu mereka untuk thriving di company:
- Berpengalaman 10 tahun atau lebih.
- Spesialis satu bidang dengan jenjang karier linear.
- Masuk jalur fast track. Misalnya Management Traine.
Sebagai contoh, GM (General Manager) gue adalah seorang specialist transportasi. Jenjang kariernya dari level operasional hingga manajerial selalu berkutat di transportasi. Bahkan jurusan kuliahnya juga transportasi.
“Gue yang cuma direct-hire dan datang dari jurusan akuntansi ga akan punya karier semulus itu. Ga ada development program yang customised buat gue sendiri.” – Fachry, to himself
Sejujurnya ga mustahil juga, tapi akan butuh effort lebih daripada 3 jenis orang di atas. Dan mengingat hidup ini adalah entropi, berarti effort gue harus berkali-kali lipat lebih gede daripada yang gue perhitungkan.
- Self-reflect, adalah skill yang ngebantu gue untuk secara objektif menilai situasi;
- Besar hati, adalah skill yang ngebantu gue untuk tidak denial dengan keadaan, dapat menerima situasi bagaimanapun bentuknya.
Mau seberapa keraspun gue berusaha, kalau hambatannya ga gue sadari, tetap aja usaha gue ga ada yang berhasil.
Gue ga frustrasi dengan keadaan, justru gue jadi lebih bersemangat dalam crafting karier idaman gue di masa depan.
Career Continuation di Tahun Ke-6: The Synthesizer
Kalau dipadatkan menjadi satu rumusan langkah-langkah berkelanjutan, stagnasi karier yang gue khawatirkan dapat kita navigasi dalam tiga bagian:
- Menyadari Stagnasi: Gue harus mengakui bahwa karier gue akan mandek, cepat atau lambat. Done.
- Berubah: Ketika sedang frustrasi, insting kita dapat menuntun langkah awal menuju perubahan. Dalam hal ini gue ga ada rasa frustrasi, namun gue udah membekali diri dengan berbagai macam pengetahuan yang bisa membantu gue kedepannya. Done.
- Bertumbuh: Refleksi dirimu, bangun ulang dirimu, dan temukan titik puasmu. On going.
Gue sadar, untuk mengungguli GM gue di perusahaan transportasi akan sangat sulit, it’s his game.
Namun, dengan fleksibilitas, kemampuan adaptasi, dan kemampuan idea synthesis (mengombinasikan dua atau lebih ide) gue yang cemerlang, gue yakin bisa punya peluang lebih jika bermain di wilayah yang gue kuasai.
Only by realizing who we are can we get what we want. – Petyr Baelish
Karena itu, di tahun ke-6 dalam karier gue, gue mau menyematkan role baru pada diri gue sendiri. Role yang memberikan kepuasan bagi gue ketika menjalaninya.
Gue ga akan cuma menyebut diri gue dengan sebutan role yang diberi oleh company. I wanna pursue or create my own role.
Ini cara gue agar tetap survive, dengan cara “pindah” ke role ke-8 dalam karier gue tanpa perlu resign dari kantor gue sekarang. This will potentially be my last role: The Synthesizer.
Dengan menyebut diri gue sebagai Synthesizer,** maka seluruh jenjang karier yang gue kumpulin sejak 2019 menjadi lebih make sense.
Dengan menyebut diri gue sebagai Synthesizer, value hidup gue jadi align dengan seluruh multidisiplin yang gue pelajari sejak 2020.
Dengan menyebut diri gue sebagai Synthesizer, gue mengakui bahwa semua yang terjadi di dunia ini saling berkaitan satu sama lain. Dan karena itu lah gue harus menggali sebanyak mungkin informasi agar dapat membuat kesimpulan dan keputusan yang tepat berdasarkan realita saat ini.
Ini bukan istilah baru, dan sebutannya udah banyak: renaissance man, multipotentialite, scanners, polymath, atau swiss army knives. Tapi gue lebih nyaman dengan istilah synthesizer untuk saat ini. Dan Koe- esque banget.
Gue percaya, di masa depan dunia lebih butuh synthesizer daripada specialist. Kemampuan melihat pola-pola tertentu dalam setiap permasalahan akan sangat membantu dalam menavigasi dunia dan mengikuti perubahannya yang semakin cepat.
Di zaman serba digital, kemampuan adaptability yang tinggi, kemampuan belajar cepat, dan idea synthesis yang baik, akan sangat menguntungkan para pemegangnya. Dan gue mau ambil bagian itu.
Siapa tau, synthesizer bisa menjadi karier legit kedepannya? The world is heading that way, anyway.
Pahami quote dari Nietzsche berikut:
“ And those who were seen dancing were thought to be insane by those who could not hear the music.” — Friedrich Nietzsche
Saat ada orang seperti gue yang men- design karier dengan berbagai macam disiplin ilmu, tentu masih banyak orang yang mengincar jenjang karier linier satu garis dengan tanda ‘ specialist’ di jidat mereka.
Ga masalah. Yang penting, gue percaya dengan curiosity gue, gue percaya dengan kompas gue. Gue percaya, bahwa gue sedang mendengarkan musik, saat orang-orang, atau mungkin lo ga bisa dengar musiknya.
And that’s how I will survive.